Selasa, 24 Maret 2009

Alasan Babe

Sekitar beberapa bulan yang lalu aku melakukan perbincangan ini dengan Babe. Ya, 'Babe' adalah sebutan ku untuk ayahku di rumah. Hari itu adalah hari Kamis malam. Aku berniat untuk meminta ijin kepada Babe untuk pergi bersama dengan teman-temanku ke sebuah mal pada hari Sabtu. Kucari di mana Babe berada. Dan ternyata kutemukan ia sedang duduk selonjoran di sofa. Kusapa ia dengan sedikit nada manja. Walau rasa takut juga mengiringi setiap langkahku. Tanpa banyak basa-basi, kuutarakan maksud utamaku. Dengan penjelasan yang maksimal, aku mempertajam pengharapanku untuk masalah ini. Aku tak meminta lebih kepada Babe. Aku hanya ingin agar aku dapat diperbolehkan pergi. Jujur, aku ingin seperti teman-temanku yang lain. Dapat dengan mudahnya diijinkan pergi, entah kapan aku dapat seperti itu.

Tak lama waktu yang ku tunggu untuk mendengar jawaban Babe. Ditegakkan badannya yang sedang terlentang tadi.

"TIDAK BOLEH!" Jawab Babe lantang.

"Mengapa? Apa alasannya?" Tanya ku tak terima.

"Pokoknya tidak boleh!" Jelas Babe dengan nada sedikit emosi.

"Babe, mengapa orang tua teman Mei yang lain memperbolehkan teman Mei, tetapi Babe tidak memperbolehkan Mei pergi? Tidak adil!" Protesku dengan mimik yang sungguh tidak terima.

"Mei, dengar kata Babe! Sekali tidak boleh tetap tidak boleh!" Teriak Babe ke Mei.

"Ah, Babe mah gitu. Gx adil. Babe gx ngerti gimana kalo jadi Mei. Hanya Mei doang yang gx boleh saat semua teman mei boleh. Dan hanya Mei doang yang gx ikud saat semua teman Mei ikut. Sebel. Huwh! Itu kan Sabtu Be, LIBUR!" Untuk kedua kalinya aku protes ke Babe.

namun, Babe menjawab protes ku itu dengan nada yang agak merendah.

"Mei, Senin sampai Jumat kamu pergi sekolah dari jam 6 pagi sampai 5 sore baru di rumah, kamu beres-beres rumah selesai jem 6 an. Makan sebentar habis itu masuk kamar kamu, belajar dan tidur sampai pagi lagi. Lalu kalau hari Sabtu kamu juga pergi seharian gitu, kapan waktu untuk orang tuanya? Masa remaja kamu cuma sekali. Setiap Sabtu Minggu tidak di rumah seharian, mau jadi apa kamu? Rumah bukan hotel. Orangtua juga mao lihat perkembangan anaknya remaja. Kamu sudah gede. Diajak orangtua jalan gak mau, malah pergi sama teman terus! Jangan lupa orang tua!" Penjelasan Babe yang senada curhat.

Setelah mendengar itu Mei langsung menahan air mata Mei. Tak mau nangis di depan Babe namun juga tak mau bohong bahwa hati Mei sangat tersentuh mendengarnya. Tak diduga oleh Mei bahwa Babe Mei memikirkan hal itu. Tak banyak kata rayuan lagi, Mei langsung menolak ajakan untuk pergi bersama teman pada hari Sabtu itu. Karena Mei ingin bersama keluarga Mei. Benar juga kata Babe. Masa remaja Mei cuma sekali. Dan nggak adil jika Mei hanya menghabiskannya dengan teman Mei. ^^.

Babe, sosok yang galak, tegas, dan posesif. Bisa membuat hati Mei terketuk karena pemikirannya yang benar-benar bersifat pemikiran yang berasal langsung dari hatinya. Astaga, Babe.. Ternyata ia sayang gadis bontotnya ini, hahaha... Makasi Babe...

1 komentar:

  1. Sayang apaan.....!!!!Kemarin bilang ma gua mo tukarin lo ama.....he..he...

    BalasHapus